Home Interview Andy /rif, Berbagi Kegelisahan dan Perdamaian

Raja jalanan di masa sekolah hingga sempet terkapar di jalan tanpa sadar dan salah satu betisnya habis hingga saat ini.
Gila mengendarai motor trail yang membuatnya harus dua kali operasi tulang belakang dan terpaksa menghentikan hobby tersebut serta menjual semua perlengkapan motocross kesayangan demi menjaga tulang belakang.
Belajar sepak bola di Sekolah Sepak Bola UNI Bandung saat SD hingga SMP dan dilatih seniornya yang  kemudian menjadi pemain Persib seperti Yusuf Bachtiar dan Yana Rodiani.
Mencapai tingkatan Dan 3 pada ilmu bela diri yang menekankan pada pernapasan dan otot, kateda, hingga sempat menjalani profesi sebagai guru kateda.
 
Menguasai gitar klasik karena belajar sejak kecil atas keinginan sendiri dan itu yang membuatnya mampu menciptakan harmoni yang tidak asal bunyi dalam setiap lagu yang diciptakannya.
Membuka diri dalam pergaulan dan wawasan yang membuatnya bisa diterima di berbagai kalangan hingga bisa masuk pula ke berbagai genre musik dari rock hingga jazz.
Sebagian sisi lain dari sosok Restu Triandy alias Andy /rif ini memberi gambaran kecil tentang keterbukaan suami dari Lyla Sisilia, serta ayah dari Jordan Triandy Kariano, 17 tahun, tinggal di Amerika Serikat, Balian Ibrahimovic (5 tahun), dan Zilian Alvaro (2 tahun) ini dalam menjalani kehidupan.
Bagaimana pula  pandangan Andy soal maraknya kerusuhan yang menodai sendi kehidupan, album tebaru /rif, proyek solo dan duet dengan Caroline Zachrie, timnas sepak bola, perkembangan musik Indonesia, hingga kepeduliannya terhadap AIDS? Berikut petikan wawancara Syair.org dengan Andy.
Banyak orang mudah tersulut untuk terlibat dalam konflik hingga menimbulkan kerusuhan. Apa yang terjadi di masyarakat menurut Anda saat ini?
Pertama, menyedihkan. Semakin bertambah umur bumi, semakin bertambah umur juga negeri kita, bukannya berkembang hebat, tapi yang ada malah banyak ketakutan. Selain ketakutan karena bencana alam, juga ketakutan akan berbagai macam, terutama kerusuhan bermunculan semakin luar biasa.
Menurut saya, alasannya karena penduduk Indonesia semakin banyak, tetapi kualitas manusianya masih memprihatinkan, sehingga banyak orang sangat mudah terpengaruh. Dengan kepolosan dan kekurangan pengetahuan, mereka tidak mencerna lebih jernih berbagai hal sehingga gampang sekali tersulut untuk melakukan hal-hal di luar peri kemanusian.   
Apa ada yang salah dalam pendidikan dan kehidupan berbudaya?
Negara kita sejak tahun 1998 berubah menjadi negara demokrasi sehingga tumbuhlah berbagai organisasi, berbagai macam partai, tetapi tidak didukung oleh kualitas manusia baik dari sisi kesejahteraan hingga fasilitas. Yang pertama harus diperbaiki adalah pendidikan. Pemerataan pendidikan sangat penting karena banyak masyarakat di daerah yang pendidikannya kurang. Pendangan orang-orang di daerah kebanyakan adalah bagaimana mereka bisa datang ke kota-kota besar terutama ke Jakarta untuk mengadu nasib.
Dampaknya di Jakarta sendiri terlihat banyak ketimpangan. Banyak orang yang memakai mobil mewah seperti Hummer sampai Bentley, tapi rakyat miskin di mana-mana karena Jakarta memang bukan untuk orang yang tidak mempunyai keterampilan. Orang yang datang ke Jakarta harus siap dengan ditunjang oleh skill. Jadi, jika Anda tidak memiliki skill, jangan sekali-sekali datang ke Jakarta karena itu akan dijadikan alat oleh orang lain termasuk oleh berbagai organisasi. Sekarang banyak pengikut organisasi, tapi karena kebanyakan dari mereka kurang pengetahuan, mereka hanya dijadikan alat. Mereka sudah sangat bangga dengan atribut dan bendera, tapi sebetulnya mungkin mereka sama sekali tidak tahu apa-apa.
Sebagai musisi, apa yang dilakukan dalam menyampaikan pesan moral kepada masyarakat?
Musik adalah sarana penyampai pesan yang sangat efektif. Dengan bernyanyi dan mendengarkan liriknya, mudah-mudahan bisa sedikit mengubah pandangan masyarakat. Jadi, tanggung jawab saya dan teman-teman adalah membawa pesan-pesan seperti itu. Yang dilakukan pada album terakhir /rif yakni album 7 menjadi salah satu bentuknya. Ke-7 lagu dari album ini penuh dengan keresahan, protes, lingkungan hidup, kata cinta, dan perdamaian.
Mudah-mudahan dengan sering menyanyikan lagunya dan tahu liriknya, mereka mengerti apa yang kita maksud dan meresapinya. Setidaknya teman-teman dan fans di status Facebook mereka banyak yang diisi oleh lagu-lagu /rif. Saat ada kerusuhan pun sempat ada fans yang menulis pada statutsnya: “Kayanya lagu /rif cocok untuk menghindari kejadian seperti itu: “Rasakan indahnya damai yang tercipta.” Ada juga yang menulis “lagu Fight dari /rif cocok sekali untuk menjadi penyemangat saya hari ini agar bisa bertahan hidup.”
Tentu ada sedikit kebahagian bagi kami. Semoga mereka memang benar-benar meresapinya dan dengan cara itu kami menyebarkan virus-virus perdamaian, virus-virus kegelisahan. Biasanya banyak fans fanatik akan melakukan apa yang kita lakukan. Oleh karena itu, kami pun harus berhati-hati dalam hal ini terutama saat konser. Walau dengan gaya dan bahasa anak muda, tapi ada misi yang harus disampaikan bahwa hidup ini tidak gampang, hidup ini susah, jangan cepat menyerah, dan jangan cepat terpengaruh. Kalau mereka benar-benar meresapi liriknya, saya berharap mereka mendapatkan sesuatu setelah menonton /rif.
Apa di balik album /rif yang ke-7?
Album ini sangat unik. Mungkin baru pertama kali band di Indonesia yang jualan CD awalnya hanya lewat Twitter dan Facebook. Saat ada temen bertanya ke mana saja selama 4 tahun ini, ko ga ada album, jawabannya karena selama empat tahun itu ga ada Twitter sih hahahahha. Tapi, sekarang sudah ada di toko CD setelah empat bulan pertama penjualan hanya melalui pemesanan ke manajemen /rif. Dalam dua bulan terjual 2.000 CD. Di masa sulit penjualan CD seperti sekarang, penjualan 2.000 CD dalam 2 bulan termasuk rekor yang bagus buat kami.
 
Sempat keliling untuk promo?
Iya, tetapi baru seputar Jawa di antaranya Bandung, Jakarta, Surabaya, Bali, Yogyakarta, dan Semarang.
Yang menarik di /rif hampir semua personilnya mempunyai proyek pribadi. Secara komitmen dan manajemen bagaimana mengaturnya?
Selama tidak mengganggu jadwal yang sudah ada di /rif sih silahkan saja. Mau melakukan apa pun silahkan. Misalnya saya dipersilahkan untuk bersolo, Jikun bikin proyek idealisnya yang sangat beda sekali dengan /rif, atau Magi punya beberapa band. Selain mempersilahkan, kita tentu tidak bisa menutup orang untuk mendapatkan rejeki. Jika ada pendapatan lain yang membuat kita bertahan hidup, kenapa tidak? Kalau /rif tidak ada konser, dan dia harus tampil dengan proyeknya dia, kenapa kita melarang? Sekarang hidup semakin susah, jadi jangan sampai memotong atau menutup orang untuk mendapatkan rejeki lain. Itu tidak boleh.
Pernahkah itu memunculkan konflik terutama soal jadwal?
Sama sekali tidak pernah. Selama /rif berdiri atau dari album pertama pada 1997 sampai hari ini, sudah 14 tahun adem ayem dan nyaman terus. 
Bagaimana mengatur kehidupan sebagai musisi dengan keluarga dan pertemanan?
Keluarga selalu yang pertama. Saya bahkan seperti tidak mempunyai teman. Di luar urusan bermusik, teman saya adalah istri dan anak-anak. Saya jarang ketemu atau nongkrong dengan teman karena saya lebih suka jalan bersama anak dan istri ke mana-mana. Untuk urusan main sudah dihabiskan semasa sebelum berkeluarga. Sudah kenyang banget dan masa itu sudah lewat bagi saya. Tapi, saya selalu menjaga hubungan baik dengan siapa pun. Saya berteman dengan kalangan yang amburadul hingga bos besar karena memang tidak perlu ada pengkotak-kotakan dalam kehidupan dan pergaulan. Dan selama ini hal itu sangat menyenangkan.
Kalau proyek duet dengan Caroline Zachrie?
Awalnya dia konsultasi karena dia suka nyanyi, terus saya dengarkan lagu-lagunya. Menyanyi merupakan hal baru bagi dia, tetapi semangat dia luar biasa dan suaranya pun bagus. Maka mulailah  duet. Dia pertama kali mengajak nyanyi duet di Budha Bar, saya main gitar dan kita nyanyi berdua. Setelah itu, kita buat proyek duet dan sempat tampil di Java Jazz dan beberapa kali manggung bersama. Orang memang melihat dia bukan sosok penyanyi, tapi saya melihat ada kemampuan pada diri dia. Keinginannya luar biasa. Bekal dan pengetahuannya juga ada. Itu yang saya lihat. Berbeda jika saya bernyanyi dengan Dewi Sandra, Shanti, Andien, atau penyanyi lain karena mereka memang penyanyi.
Berapa lagu yang dinyanyikan dengan Caroline?
Lagu dia sendiri baru satu, tapi kalau duet bisa 5 lagu, sisanya saya menyanyi 4-5 lagu dan dia bawakan 3-4 lagu. Itu hanya hal lain yang saya lakukan untuk membuat sesuatu yang baru dalam bermusik karena saya pun terkadang bekolaborasi dengan DJ atau juga nyanyi Jazz.  Jadi bervariasi, saya tidak hanya berdiri di genre musik rock seperti yang saya jalani dari dulu hingga sekarang, tetapi hal lain yang saya lakukan juga ternyata sangat menyenangkan.
Kalau proyek solo Andy sendiri bagaimana kabarnya?
Kalau itu rencananya album, tapi hampir 2 tahun tidak beres-beres karena saya melakukannya tidak seserius jika /rif membuat album. kalau mood-nya lagi asyik, baru jalan. Dalam 2 tahun ini memang mood-nya hanya beberapa kali. Tapi, sejauh ini sih sudah ada 7 lagu dan saya masih menunggu 2-3 lagu lagi, setidaknya ingin ada 10 lagu di album solo tersebut. Saya sendiri menjalaninya sangat santai untuk album solo ini. Paling tidak sempat diluncurkan single pertama yang berjudul Apa Kabar dan dari report di radio-radio cukup lumayan posisinya. Padahal CD dll. belum ada, baru lagu saja. Yang pasti, di proyek ini benar-benar beda dengan /rif. Saya hanya bilang sama orang bahwa Andy bernyanyi karena saya memang suka menyanyi. Lagu pun ciptaan orang lain semua, bukan ciptaan saya.
Di /rif sendiri sebagian besar lagu diciptaan Andy, biasanya bagaimana prosesnya?
Inspirasi kebanyakan dari kehidupan karena saya bukan orang yang suka membaca. Baca koran atau majalah juga hanya sekilas, berita cukup mendengar di TV. Apalagi novel, tidak pernah baca. Jadi, apa yang dilihat sehari-hari saya tuangkan menjadi tulisan. Seperti di album 7, semuanya saya yang buat termasuk lirik-liriknya.
 
Contohnya lagu Fight, saya buat terinspirasi sewaktu pulang memakai kereta dari Purwokerto ke Jakarta. Saat masuk stasiun saya melihat begitu banyak orang, banyak yang mengangkut barang, berjualan, dan berseliweran dengan berbagai kegiatan. Itu masih jam 6 pagi dan saya pun turut berada di situ, mau pulang sehabis bekerja dan harus segera mengerjakan hal lain di Jakarta. Artinya, semua orang ke luar rumah harus fight biar bisa pulang membawa rejeki untuk anak-istri. Makanya saya tulis di ref.-nya: “Semua Ingin Jadi Pemenang, Biar Bisa Senang.” Semua orang ke luar rumah berjuang untuk mencari uang. Berdagang untuk uang, saya datang ke Purwokerto juga karena uang untuk dibawa pulang untuk hidup saya dan keluarga. “Semua Ingin Jadi Pemenang, Biar Senang. Hidup Senang, Bisa Terus Senang. Senang.
Bagaimana cara berbagi tugas dengan istri dalam mendidik anak-anak?
Karena masalah pekerjan, waktu saya di rumah terus terang bisa dikatakan kurang dan waktu istri tentu lebih banyak untuk anak-anak. Tapi, komunikasi dengan istri tentu paling utama dan malam hari saat anak-anak tidur merupakan saat-saat diskusi yang sering saya lakukan dengan istri. Bagaimana pun, sebagai seorang ayah, saya tentu harus berjuang untuk memfasilitasi kebutuhan keluarga, sedangkan urusan sekolah, seragam, mengerjakan PR, dll. istri yang menanganinya. Setidaknya kami membagi tugas. 
Punya harapan untuk anak-anak?
Pasti, harapan saya yang paling sederhana adalah begaimana anak-anak bisa bertahan untuk hidup dan itu harus didukung melalui sekolah atau hobby mereka. Soal pergaulan, itu biar berkembang dengan sendirinya. Saya tidak akan membatasi apakah dia mau jadi pemusik, pemikir, ilmuwan, atau apa pun itu, mereka sendiri yang harus memilih.
Siapa yang paling terlihat memiliki keinginan dalam bermusik?
Kalau musik mungkin menurun ke kedua anak saya, yang kecil bahkan terlihat lebih serius. Hampir setiap hari dia menggebuk drum. Dia sering meminta saya bermain gitar dan dia bermain drum sesukanya dia saja. Bermain musik memang harus datang dari diri sendiri. Saya pun dulu meminta kursus gitar dan sekolah gitar klasik juga keinginan sendiri, sama sekali tidak disuruh oleh orang tua.
Dulu saya pun masuk sekolah sepak bola UNI di Bandung juga atas keinginan sendiri. Waktu itu saya belajar sepak bola saat kelas 6 SD sampai kelas 1 SMP. Begitu pula ketika saya mempelajari bela diri kateda hingga Dan 3 dari SMP sampai kuliah, yang tidak beres, hingga kerja dan pernah juga menjadi pengajar.
Bagaimana soal sepak bola Indonesia saat ini?
Saya ingin menikmati sepak bola yang indah dan menarik. Kalau melihat Liga Inggris atau Italia tentu itu sudah menjadi jaminan, tapi kalau melihat sepak bola kita, selalu muncul pertanyaan rame tidak ya, bagus tidak ya. Ternyata ga bagus, bosen ah. Saya hanya ingin melihat permainan indah, kalau urusan menang kalah itu lain soal.
 
Bagaimana dengan timnas di Piala AFF kemarin?
Timnas asyik. Saya hanya sempat menonton sekali yakni saat melawan Thailand karena memang waktunya banyak bentrok. Ada kebahagiaan, ada miris, dan juga pengen ketawa. Timnas kita masuk final, tapi gangguannya banyak sekali. Jamuan di sini, acara itu, dll. Padahal mestinya nanti dulu karena tugas mereka belum selesai, kecuali kalau sudah juara bolehlah. Ujungnya kan antiklimaks. Saya pun sempat mengumpat, apa kata gue, acara-acara kaya gitu jangan dulu lah! 
Meski pengurusnya acak-acakan, tapi bagi timnas ini adalah tahun emas mereka. Sebelumnya tidak ada yang melirik sepak bola, tapi sekarang semua orang bangga memakai kaos timnas. Mereka bangga memakai kaos Bambang, bangga memakai kaos Irfan meski baru datang beberapa bulan dan tiba-tiba menjadi bintang hehehe, padahal banyak pemain yang habis-habisan tapi tidak jadi-jadi bintang, cuma karena ganteng saja dia hehehe.
Secara ekonomi juga membantu karena kaos yang resmi maupun yang tidak resmi diminati banyak orang. Tapi, intinya semua bangga memakai kaos merah putih timnas dengan nama para pemain kita sendiri. Kalau dulu mereka lebih bangga memakai kaos dengan nama pemain-pemain negara lain seperti Inzaghi, Del Piero, dll. Harusnya pemerintah dan para pengurus melihat hal ini. Bagaimana penjualan tiket bisa berantakan dan rusuh? Mestinya mereka melihat hal itu dan sudah siap. Kalau diatur dengan nyaman, tentu akan lebih membanggakan.
Kembali ke musik, Bagaimana perkembangan musik Indonesia belakangan ini?
Menurut saya era 90-an lebih mengasyikan, warna musik Indonesia pada masa itu sangat bagus. Kalau mau mendengarkan musik rock ada /rif, Slank, Boomerang, dll. Pop rock ada Gigi, Cokelat, untuk Jazz ada The Groove, untuk pop ada Sheile on 7. warna musik beragam, tapi kualitas musiknya bagus-bagus. Sekarang band tumbuh banyak banget, tapi semuanya dengan warna yang sama. Memang industri bisnis musik sekarang sedang demikian, dan yang paling bahaya band-band sekarang kebanyakan tujuannya hanya ingin populer.
Tidak bisa dipungkiri karena dengan populer karier mereka bisa muncul dengan cepat, tapi jika terlalu cepat memikirkan kepoplurean juga itu berbahaya. Sementara itu, angkatan kita dulu bermain musik dengan totalitas dan keseriusan karena kepopuleran akan datang dengan sendirinya jika kita memang teruji. Sekarang, teman saya misalnya bilang anaknya membuat band dan lagu-lagunya bagus banget, tetapi ketika didengarkan musiknya ya seadanya, tidak berkualitas. Justru kasihan jika mereka dipaksakan. Industri memang menjual apa yang laku. Sekarang musik melayu yang dibuat dan dijual oleh industri. Artinya, selera pendengar musik kita mungkin menurun juga. 
Apakah itu karena dijejali terus oleh musik yang sekarang merajalela?
Sebetulnya lebih karena mengekor. Bagaimanapun mestinya banyak penyanyi yang berterima kasih kepada Ariel karena banyak yang mengekor kepadanya. Dengan khas suaranya, dengan melodi dia bernyanyi seperti itu, kemudian ditiru oleh banyak band dan yang mengekor itu banyak juga yang sukses. Misalnya, saya sempat bertanya, ini lagu Peterpan yang mana ya? Ternyata itu lagu ST12 dan suaranya sama, padahal dia muncul belakangan setelah Peterpan jauh lebih sukses. Ironisnya, terus bermunculan band yang mengambil warna yang sama. Semua sama, tidak ada keberanian untuk memunculkan sesuatu hal yang baru.
 
Tapi, musik biasanya berputar, dan selanjutnya ke arah mana Andy melihat musik kita akan bergerak?
Betul, musik terus berputar dan menurut saya perputaran berakhir di tahun 90-an. Kalau di genre music rock ada progresif, hard rock, rock & roll, garage, dll. Semua sudah ada, tetapi kemudian muncul dengan istilah-istilah lain. Intinya, sekarang jumlah band luar biasa, tapi dari sisi kualitas menurun dan saya yakin musik-musik seperti itu akan mulai ditinggalkan orang. Sekarang misalnya saya sedang menjadi juri dalam sebuah lomba yang disponsori oleh perusahaan besar untuk mencari band dengan kulaitas bagus, tapi tetap komersil. Catatannya adalah hindari karakter atau warna band yang sudah ada. Mereka sudah menyadarinya. Ternyata dari beberapa kota yang saya ikuti sebagai juri, tak ada satu pun yang memainkan jenis musik melayu. Mereka berani untuk memainkan musik yang berbeda, termasuk memainkan jenis rock lama. Pemenangnya nanti dikontrak oleh Sony. Jurinya selain saya adalah Fadli (Padi) dan Eros (Sheila on 7), serta ada juga dari media, Rolling Stone.
 
Bagaimana soal keterlibatan di Syair.org?
Sejujurnya saya sangat salut sama teman-teman di Syair.org karena sejauh ini saya belum melihat yayasan atau pergerakan seperti ini. Karena keterbatasan waktu, saya termasuk jarang terlibat, tetapi saya akan selalu mensuport sesuai kemampuan saya. 
Ada ambisi yang belum terwujud?
Sebagai pemusik, saya punya keinginan untuk membuat konser tunggal /rif yang memiliki misi atau muatan sendiri termasuk tentunya mengkampanyekan AIDS dan lingkungan. Saat konser Soundrenalin di Pekanbaru, misalnya, saya minta semua penonton untuk melemparkan semua sampah ke panggung. Pesan moralnya adalah Anda datang menonton konser bukan untuk menyampah, dan kami bawa gerobak ke panggung untuk membersihkannya.
 

Comments

comments

NEWS