1238-ph6ykt9e-sebarkan-budaya-indonesia

Oleh Ukke R. Kosasih

“Butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari bahwa saya berhak dihargai dan merasakan kebahagiaan”

Ungkapan itu disampaikan oleh Yuli (bukan nama sebenarnya), 21 tahun. Seperti kebanyakan perempuan muda di kampungnya, Yuli dinikahkan oleh orang tuanya di usia belia, 16 tahun. Alasannya mudah ditebak, untuk mengurangi beban orang tua dan terhindar dari sebutan “perawan tua”.

Perkawinan Yuli, nyatanya tak pernah berhasil mengurangi beban itu, justru mendatangkan beban yang lebih berat bagi mereka,  termasuk dan terutama bagi Yuli. Segera setelah menikah dan mengandung, perempuan manis bertubuh jangkung ini mulai mendapat kekerasan dari suaminya. Tidak hanya itu, pada saat mengandung itu lah, sang suami meninggalkannya.

Tak banyak yang diceritakan Yuli tentang perlakukan kasar suaminya. Namun, walau sudah meninggalkannya, Yuli sering mendapat ancaman bila dianggap dekat atau didekati oleh pria lain. Dia lalu menutup diri. Tak lagi banyak bicara. Semua orang di sekitarnya dianggap sebagai penyebab penderitaan. Dia menyalahkan orang tua yang memaksanya menikah. Dia pun tak merasa memiliki hubungan dengan putrinya yang lahir dari laki-laki yang menyakitinya.

Hidup Yuli mulai berubah saat diajak temannya untuk bergabung dengan sebuah workshop pembuat boneka dan quilt. Yuli yang tak pernah punya pengalaman menjahit sedikit pun memilih untuk belajar menjahit. Berbulan-bulan ia hanya melatih keterampilan tangannya untuk menjelujur. Tak banyak uang yang dihasilkan selama proses belajar ini, tapi yang paling berarti baginya adalah adanya kegiatan rutin dan teman-teman sebayanya. Yuli tetap tak banyak bicara.

“Dia bisa tidak bicara berjam-jam. Sibuk dengan pemidangan dan jarumnya,” ungkap seorang rekan kerjanya.

Setelah satu tahun bergabung, Yuli mulai berubah. Dia mulai mengungkapkan pengalaman hidupnya, bahkan mulai berani menyarankan teman-temannya untuk menolak menikah di usia muda, apalagi dengan pria yang tidak dikenal dengan baik. Tubuhnya tidak lagi kurus, tawanya pun semakin sering terdengar.

Tidak hanya itu, dalam lomba karya yang diselenggarakan workshop tersebut (semua pekerja bebas menentukan desain dan teknik pembuatan dalam berkarya), Yuli berhasil menjadi pemenang pertama! Dia membuat  celemek yang begitu cantik penuh dengan sulaman bunga. Dia pun berhasil mempresentasinya keunggulan karyanya di hadapan teman-teman kerjanya dan  para “juri”.  Dia bahkan mengungguli karya “guru pendampingnya” di workshop.

Yuli semakin siap menjalani hidupnya dengan kepala tegak. Mungkin muncul pertanyaan di benak kita, apa yang membuat Yuli berdaya dan mampu menemukan kekuatan dirinya?

Untuk menjadi penyintas (survivor), baik itu ODHA, korban KDRT  atau korban kekerasan lainnya, tidak mungkin dapat terjadi dalam waktu singkat dan tanpa dukungan orang-orang di sekitarnya. Penemuan kekuatan diri untuk bangkit adalah sebuah proses bertahap.

Dalam kasus Yuli, ada beberapa kondisi yang turut membantu tumbuhnya kepercayaan dan penghargaan pada dirinya, antara lain;

  1. Teman-teman kerja yang tidak pernah menyalahkan sikap atau tindakan Yuli yang “terlihat seperti pasrah menerima nasib”. Sering kali, seorang korban, kembali menjadi korban untuk kedua atau kesekian kalinya ketika orang-orang di sekitarnya justru bersikap “menyalahkan”. Dengan kondisi seperti ini, akan sangat sulit bagi korban untuk menemukan kepercayaan dan penghargaan pada dirinya.
  2. Adanya penghargaan atas kemampuannya. Adanya bimbingan dan penilaian yang proporsional atas hasil kerjanya adalah tahapan yang dilalui Yuli untuk menemukan kemampuan dirinya. Yuli mendapatkan penghasilan dari karyanya (setelah dia mampu membuat karya yang bernilai jual) dan secara terus- menerus didorong untuk membuat karya terbaiknya, karena ia harus memahami bahwa orang membeli karyanya tidak karena alasan “kasihan” atas derita yang dialaminya, tapi karena memang karyanya berharga untuk dibeli. Dengan pemahaman seperti ini, Yuli belajar untuk memberi penghargaan pada dirinya dan terus meningkatkan kemampuannya.

Tentu saja, masih banyak hal lainnya yang menjadi pendukung bangkitnya Yuli dari keterpurukan, termasuk daya juang dalam dirinya. Namun, dua hal di atas mungkin merupakan modal utama yang dia dapatkan untuk kembali berdaya.

Leave a reply

Menjadi organisasi yang menggerakkan kesadaran terhadap isu-isu sosial dan kesehatan yang berkembang di Indonesia, khususnya yang terkait dengan HIV dan AIDS.

Support

Dengan anggota tim dan relawan yang antusias, kami siap mendukung Anda kapan pun.

Contact

Jl. Lebak Indah V No. E/9, RT 10 RW 07

© Copyright 2021 by Syair.org