Home Ask Dokter Kesinambungan Obat AIDS



Oleh: Prof. Dr. dr Samsuridjal Djauzi SpPD

Saya didiagnosis terinfeksi HIV pada tahun 2001. Pada waktu itu, saya mengalami diare lama disertai demam yang juga lama, lebih dari sebulan. Berat badan saya menurun 12 kg dari semula 62 kg menjadi 50 kg. Saya berobat ke beberapa rumah sakit dan didiagnosis bermacam-macam, mulai dari tuberculosis, demam tifoid, bahkan pernah diduga penyakit lupus. Padahal saya seorang laki-laki berumur 48 tahun. Setahu saya, penyakit lupus umumnya menyerang perempuan. Setelah berpindah-pindah tempat berobat, dokter yang terakhir memeriksa HIV dan hasilnya positif.

Pada waktu itu penyakit oportunistik saya berhasil diatasi meski dengan susah payah. Ternyata memang saya juga menderita tuberculosis usus yang memerlukan pengobatan selama 9 bulan. Saya mendapat obat ARV generic dari India dan pada tahun 2002 diganti obat ARV generic buatan Thailand. Saya harus membayar untuk obat ARV generic buatan India dan Thailand ini meski tak terlalu mahal. Barulah pada tahun 2004 pemerintah memberi subsidi penuh obat ARV, saya mendapat ARV gratis. Obat tersebut buatan Kimia Farma, namanya Duviral dan Neviral. Sampai sekarang saya masih menggunakan obat tersebut secara teratur.

Meski banyak teman yang menginformasikan bahwa obat ARV mudah resistensi, sampai sekarang keadaan saya baik dan CD4 saya melebihi 500. Menurut dokter saya, obat yang saya minum, Duviral dan Neviral, masih berfungsi baik. Sebenarnya cukup banyak teman seangkatan saya yang masih dalam pengobatan Duviral dan Neviral belum perlu diganti dengan obat lini 2 karena belum resistensi.

Pertanyaan saya, sampai berapa lama pemerintah akan membantu kami yang amat memerlukan ARV. Pada akhir tahun 2010 kami gelisah karena adanya berita-berita yang menyatakan bahwa bantuan obat ARV akan dihentikan. Setahu saya obat ARV merupakan bantuan Global Fund, sampai kapan Global Fund akan membantu Indonesia. Apakah jika bantuan tersebut dihentikan, maka kami harus membeli obat ARV sendiri?

Apakah pemerintah akan terus menyediakan obat ARV dalam bentuk program sekarang ini? Apakah juga akan disediakan obat ARV di apotek bagi yang mampu membeli sehingga bantuan hanya bagi mereka yang membutuhkan? Bagaimana dengan pengadaan obat ARV di negara lain, misalnya Thailand? Setahu saya, ODHA yang membutuhkan obat ini jauh lebih banyak daripada ODHA di Indonesia. Terima kasih atas jawaban dokter, mudah-mudahan pemerintah tetap berkomitmen membantu kami para ODHA di Indonesia.


Jawaban

Memang banyak yang menyangka bahwa obat AIDS yang dikenal sebagai ARV dapat disediakan secara gratis berkat bantuan donor luar. Padahal setiap tahun, sejak tahun 2004, Pemerintah Indonesia menyediakan dana melalui anggaran belanja pemerintah untuk penyediaan obat ARV dan obat infeksi oportunistik. Tahun ini pemerintah menyediakan anggaran lebih dari seratus miliar rupiah untuk obat ARV dan obat infeksi oportunistik. Obat ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan obat ARV untuk 30.000 orang.

Jumlah ODHA yang memerlukan ARV di negeri kita semakin meningkat karena jumlah layanan tes HIV semakin banyak dan pedoman WHO yang baru (2010) menganjurkan untk memulai ARV pada keadaan penyakit yang lebih dini (CD4 350). Kita bersyukur karena sudah dapat memproduksi obat ARV di dalam negeri. Empat macam obat ARV sudah diproduksi oleh PT Kimia Farma dan satu lagi, Efavirenz, dalam proses registrasi.

Global Fund dan donor luar negeri cukup banyak membantu kita. Namun, bantuan tersebut lebih diutamakan pada upaya penyuluhan dan pencegahan. Global Fund juga membantu pengadaan obat ARV lini 2, namun pengunaan obat ARV lini 2 di negeri kita masih sedikit (kurang dari 5 persen). Selain itu, Global Fund juga membantu jika penyediaan obat ARV lini 1 kurang. Jadi, untuk pengadaan obat ARV lini 1, yang digunakan lebih dari 95 persen ODHA, masih dibiayai oleh pemerintah.

Komitmen pemerintah kita harapkan masih akan terus karena hasil pengobatan dengan ARV amat menggembirakan. Angka kematian karena AIDS di negeri kita dapat diturunkan. Jika pada 2006 angka kematian masih sekitar 42 persen, pada 2009 angka kematian tinggal 18 persen. Ini berarti cukup banyak saudara kita yang dapat diselamatkan dari kematian.

Biaya untuk pengadaan obat ARV bukanlah pemborosan, melainkan merupakan investasi yang dapat menghemat pengeluaran biaya infeksi oportunistik  dan biaya perawatan di rumah sakit. Di Thailand sekarang ini sekitar 150.000 orang menggunakan ARV. Di Thailand pun biaya obat ARV ditanggung pemerintah. Namun, Pemerintah Thailand juga menyediakan obat ARV di apotek rumah sakit dengan harga yang relatif terjangkau (sekitar Rp 300.000 per bulan). Mereka yang tak ingin ikut program pemerintah dapat memperoleh layanan obat ARV melalui layanan swasta dan membiayai sendiri obat ARV-nya.

Memang sampai sekarang baru sekitar 10 persen mendapat obat ARV dari jalur swasta, namun porsinya semakin lama semakin meningkat. Dulu, pengadaan obat ARV melalui layanan yang membayar sendiri sulit dilakukan karena obat tersebut masih dalam masa paten tak boleh diperjualbelikan. Namun, sekarang obat-obat ARV lini 1 pada umumnya masa patennya sudah habis sehingga dapat diproduksi secara generic dan diperdagangkan. Bukan tak mungkin, pola Thailand ini akan dicontoh oleh Indonesia. Masyarakat yang ingin membiayai sendiri pengobatannya diberi kesempatan untuk membeli obat ARV namun program pemerintah yang berupa obat ARV secara gratis tetap ada.

Jangan lupa, kita juga harus berupaya agar mereka yang belum terinfeksi HIV terhindar dari penularan. Karena itulah, upaya pencegahan harus dipahami masyarakat. Jadi kita mempunyai kewajiban melindungi saudara-saudara kita dari penularan HIV. Kita juga berkewajiban menyediakan obat ARV bagi saudara kita yang telah terinfeksi dan memerlukan obat tersebut.

* Artikel ini juga dimuat di harian Kompas.


Comments

comments

NEWS